MEDIA BELAJAR SOSIOLOGI

Media berbagi pengetahuan

September, 2010

 

PERANGKAT MENGAJAR SOSIOLOGI KELAS X

 
 
 

PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH DENGAN METODE INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN KONSEPSI-KONSEPSI, AKTIVIT

Sains adalah salah satu mata pelajaran yang sangat erat kaitannya dalam
kehidupan sehari- hari. Siswa SMP umumnya menganggap bahwa mata pelajaran sains merupakan salah satu bidang ilmu yang tergolong sulit untuk dipahami sehingga siswa kurang berminat untuk mengikuti pelajaran sains ini. Untuk itu guru bidang studi sains hendaknya menyajikan materi pembelajaran dengan baik dan menarik.
Berdasarkan observasi di beberapa SMP Negeri dan Swasta di Bandar Lampung,
penyebab rendahnya hasil belajar siswa adalah kurangnya keterlibatan siswa
dalam pembelajaran dan aktivitas yang dilakukan cenderung tidak relevan dengan materi pembelajaran, aktivitas siswa sebatas mencatat dan mendengarkan, selain itu metode yang digunakan kurang mampu mengaktifkan siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan peningkatan konsepsi-konsepsi, aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi fisika menggunakan pembelajaran berdasarkan masalah melalui metode inkuiri.
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 20 Bandar Lampung dan SMP Al-
Kautsar, dengan melibatkan 77 siswa kelas VIII Semester 2 Tahun pelajaran
2006/2007. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan
dalam 3 siklus. Kegiatan yang dilakukan meliputi perencanaan, pelaksanaan
tindakan, evaluasi dan refleksi untuk tiap siklus. Hasil penelitian ini menunjukan
bahwa (1) Pemahaman konsep siswa pada siklus I rata-rata 70,62, siklus II ratarata 76,74 dan siklus III rata-rata 83,79 (2) aktivitas siswa pada siklus I yaitu rataratanya 63,5, siklus II rata-rata aktivitas siswa 74,33, dan siklus III rata-rata aktivitas siswa 79,38. (3) hasil belajar siswa pada siklus I rata-rata 64,12, siklus II nilai rata-rata 69,24, dan pada siklus III nilai rata-rata 74,31.

selengkapnya download disini
 
 
 

PENINGKATAN HASIL BELAJAR KIMIA SISWA KELAS X DENGAN MENGGUNAKAN KOMBINASI METODE STUDENTS TEAM ACHI

Hasil belajar kimia siswa kelas X-5 SMA N 16 Semarang masih relatif
rendah yang ditunjukkan dengan sedikitnya jumlah siswa yang mengalami
ketuntasan belajar yaitu sebesar 38,46 %. Selain itu keterlibatan siswa selama
pembelajaran pun masih terbilang rendah. Metode pembelajaran yang digunakan
oleh guru selama ini adalah dengan ceramah dan cara ini ternyata kurang efektif
untuk mencapai ketuntasan belajar siswa. Permasalahan yang ingin diungkap
adalah apakah penggunaan kombinasi metode Student Teams Achivement Division
(STAD) dan Structure Exercise Methode (SEM) dapat meningkatkan hasil belajar
kimia siswa kelas X-5 SMA N 16 Semarang. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui apakah penggunaan kombinasi metode Student Teams Achivement
Division (STAD) dan Structure Exercise Methode (SEM) dapat meningkatkan
hasil belajar siswa sehingga mencapai ketuntasan belajar secara klasikal sebesar
85 %.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di
kelas X-5 SMA N 16 Semarang dan terbagi menjadi dua siklus, di mana pada
setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan (tindakan), observasi, dan
refleksi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan tes, angket, observasi
dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan analisis kuantitatif maupun
kualitatif. Berdasarkan analisis data penelitian, diperoleh nilai rata-rata siswa
secara klasikal pada siklus I sebesar 65,77 dan pada siklus II meningkat menjadi
75,15. Ketuntasan belajar siswa juga mengalami peningkatan, pada siklus I
sebesar 71,74 % dan menjadi 89,73 % pada siklus II. Peningkatan hasil belajar
siswa ini diikuti pula oleh peningkatan aktivitas belajar siswa sebesar 56,36 %
pada siklus I dan meningkat menjadi 80 % pada siklus II.
Dari hasil penelitian tersebut, simpulan yang dapat diambil adalah
penggunaan kombinasi metode Student Teams Achivement Division (STAD) dan
Structure Exercise Methode (SEM) dapat meningkatkan hasil belajar kimia siswa
kelas X-5 SMA N 16 Semarang, sehingga mencapai standar ketuntasan belajar
secara klasikal yang diharapkan yaitu sebesar 85%

selengkapnya download disini
 
 
 

RPP BAHASA ARAB

Selengkapnya download disini
 
 
 

PEMBELAJARAN ANIMALIA YANG MENYENANGKAN MELALUI PERMAINAN

Selengkapnya download disini
 
 
 

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BIOLOGI POKOK BAHASAN EKOSISTEM MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN CTL PADA

Berdasarkan hasil observasi awal pembelajaran biologi di SMP Negeri I Doro Kabupaten Pekalongan memperlihatkan adanya beberapa kendala dalam pelaksanaan KBM, yaitu : jumlah peralatan laboratorium yang kurang memadai, metode pembelajaran yang kurang bervariasi sehingga siswa merasa jenuh dan bosan untuk belajar khususnya mata pelajaran biologi dan hasil belajar yang tidak optimal. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar biologi agar menjadi lebih baik (maksimal) baik secara individu maupun klasikal. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian pembelajaran biologi dengan menggunakan pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) yang menekankan aspek-aspek REACT meliputi aspek mengaitkan (Relating), aspek mengalami (Experiencing), aspek menerapkan teori pada situasi tertentu (Applying), aspek kerjasama (Cooperating) dan perolehan pengetahuan baru (Transfering) sebagai aspek-aspek pokok pada pembelajaran IPA sebagai proses.
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 4 siklus. Setiap siklus terdiri dari empat kegiatan, yaitu (1) perencanaan (plannimg), dilakukan untuk mengidentifikasi masalah dan merencanakan kegiatan pembelajaran seperti mempersiapkan perangkat pembelajaran, membuat alat evaluasi dan instrumen penelitian. (2) Pelaksanaan (acting) yaitu melaksanakan kegiatan KBM dengan menggunakan pendekatan kontekstual (CTL) untuk meningkatkan hasil belajar siswa. (3) Observasi (observing), yaitu pengambilan data tentang proses hasil belajar siswa. (4) Refleksi (reflecting) adalah kegiatan untuk menganalisa data hasil pengamatan. Yang menjadi subyek penelitian adalah siswa di salah satu kelas (kelas VII D) SMP Negeri I Doro Kabupaten Pekalongan Tahun pelajaran 2004/2005, yang berjumlah 40 siswa.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai, baik nilai praktikum maupun nilai evaluasi setiap akhir siklusnya. Pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh siswa yaitu 69,12 dengan ketuntasan belajar 62,50 %. Siklus ke II nilai rata-rata meningkat menjadi 75,53 dengan ketuntasan belajar 70 %. Siklus III nilai rata-rata yang dicapai siswa lebih meningkat yaitu 78,33 dengan ketuntasan belajar 90 %. Siklus ke IV nilai rata-rata meningkat menjadi lebih baik yaitu 85,91 dengan ketuntasan belajar 92,50 %. Keaktifan siswa pada saat melakukan kegiatan praktikum juga meningkat selama KBM dari tiap siklusnya, ini ditunjukkan dengan semakin bertambahnya siswa yang memperoleh nilai yang lebih baik dari praktikum sebelumnya.
Dengan demikian dapat disimpulkan hasil belajar siswa baik secara individu maupun klasikal dapat ditingkatkan dengan pendekatan pembelajaran CTL, disarankan agar pembelajaran biologi dengan pendekatan ini dapat dipergunakan sebagai metode alternatif guru dalam meyampaikan materi pelajaran khususnya biologi.

selengkapnya download disini

 
 
 

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PORTOFOLIO MATA PELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X DI SMA NEGERI 4 KOTA TEGAL

Selama ini pembelajaran Sosiologi dianggap sebagai mata pelajaran kurang menyenangkan. Ini dikarenakan guru terbiasa dengan pembelajaran konvensional, dimana siswa kurang dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Belajar mengajar terkesan kaku, kurang fleksibel, kurang demokratis dan guru cenderung menggunakan satu metode (one way method). untuk menanggapi anggapan di atas diperlukan suatu pembelajaran yang efektif dan efisien. Untuk menjawab tantangan tersebut diperlukan suatu inovasi dalam dunia pendidkan yaitu pembelajaran portofolio, merupakan alternatif cara belajar siswa aktif. Dimana guru harus mampu sebagai pemegang kunci yang mempunyai ide-ide kreatif dan inovasi agar pembelajaran tidak membosankan. Namun, kebenaran argumen ini perlu dibuktikan melalui kegiatan penelitian agar diperoleh jawaban yang akurat.
Dari latar belakang masalah diatas muncul permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu: (1) bagaimana pelaksanaan pembelajaran portofolio pada mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal? dan (2) adakah hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran portofolio mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal? Penelitian ini bertujuan: (1) ingin mengetahui pelaksanaan pembelajaran portofolio pada mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal, (2) ingin mengetahui hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran portofolio mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan metode pengamatan (observasi), metode wawancara, dan metode dokumentasi. Fokus dalam penelitian ini adalah guru yang mengajar menggunakan pembelajaran portofolio dan siswa yang diajar menggunakan pembelajaran berbasis portofolio. Analisis datanya bersifat deskritptif analisis interaktif yaitu mulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukan gambaran umum SMA Negeri 4 Kota Tegal terletak di jalan Dr. Setiabudi No. 32 Kota Tegal lokasi tersebut sangat strategis dan mudah dijangkau dan SMA Negeri 4 Kota Tegal merupakan salah satu SMA yang berkualitas dan mampu berkompeten dalam mengembangkan dunia kependidikan di Kota Tegal terbukti bahwa SMA Negeri 4 kota Tegal telah mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan formal lain yang ada di kota Tegal, pada khususnya dalam bidang akademik maupun prestasi.Yang kedua bahwa pelaksanaan pembelajaran portofolio di SMA Negeri 4 Kota Tegal berjenis portofolio tayangan dan portofolio dokumentasi. Diadakan di kelas X pada semester genap. Dalam pembelajaran portofolio siswa dilatih untuk memiliki
kesadaran dan kemampuan bersikap kritis, peka dan peduli terhadap fenomena yang terjadi di dalam masyarakat sekitarnya. Dalam pembelajaran portofolio evaluasi portofolio mencakup penilaian portofolio tampilan atau tayangan, penilaian portofolio dokumentasi, serta penilaian portofolio presentasi. Dan yang ketiga hambatan-hambatan dalam pembelajaran portofolio yaitu waktu, biaya, dan kompetensi guru. Waktu dalam pembelajaran portofolio yaitu triwulan pertama identifikasi masalah kemudian dilanjutkan dengan mencari data di lapangan, triwulan kedua siswa menyelesaikan portofolio yaitu portofolio tayangan dan dokumentasi, akhir semester diadakan show_case. Kompetensi guru di SMA Negeri 4 sudah cukup baik karena pemahaman tentang pembelajaran portofolio didapatkan dari penataran di Semarang tentang pembelajaran portofolio walaupun kompetensi yang diharapkan belum maksimal hasilnya karena guru berlatar belakang non pendidikan Sosiologi. Namun berdasarkan wawancara dengan guru dan peserta didik yang sangat menonjol yaitu biaya karena dalam pembelajaran portofolio membutuhkan biaya yang cukup banyak terutama dalam pelaksanaan show_case.
Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran portofolio menjadikan peserta didik lebih aktif dalam proses belajar mengajar dan guru sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar mampu membuat suatu kegiatan belajar mengajar Sosiologi menjadi menyenangkan dan kondusif bagi peserta didiknya. Hambatan-hambatan dalam pembelajaran portofolio yaitu waktu, biaya, dan kompetensi guru.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para guru terutama guru yang kesulitan dalam meningkatkan antusiasme siswa untuk mencoba pembelajaran portofolio terutama untuk meningkatkan kreatifitas dan sikap kritis dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian suasana belajar mengajar lebih kondusif dan kualitas pembelajaran lebih meningkat dan bermutu

selengkapnya download disini
 
 
 

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PORTOFOLIO MATA PELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X DI SMA NEGERI 4 KOTA TEGAL

Selama ini pembelajaran Sosiologi dianggap sebagai mata pelajaran kurang menyenangkan. Ini dikarenakan guru terbiasa dengan pembelajaran konvensional, dimana siswa kurang dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Belajar mengajar terkesan kaku, kurang fleksibel, kurang demokratis dan guru cenderung menggunakan satu metode (one way method). untuk menanggapi anggapan di atas diperlukan suatu pembelajaran yang efektif dan efisien. Untuk menjawab tantangan tersebut diperlukan suatu inovasi dalam dunia pendidkan yaitu pembelajaran portofolio, merupakan alternatif cara belajar siswa aktif. Dimana guru harus mampu sebagai pemegang kunci yang mempunyai ide-ide kreatif dan inovasi agar pembelajaran tidak membosankan. Namun, kebenaran argumen ini perlu dibuktikan melalui kegiatan penelitian agar diperoleh jawaban yang akurat.
Dari latar belakang masalah diatas muncul permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu: (1) bagaimana pelaksanaan pembelajaran portofolio pada mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal? dan (2) adakah hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran portofolio mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal? Penelitian ini bertujuan: (1) ingin mengetahui pelaksanaan pembelajaran portofolio pada mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal, (2) ingin mengetahui hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran portofolio mata pelajaran Sosiologi kelas X di SMA Negeri 4 Kota Tegal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan metode pengamatan (observasi), metode wawancara, dan metode dokumentasi. Fokus dalam penelitian ini adalah guru yang mengajar menggunakan pembelajaran portofolio dan siswa yang diajar menggunakan pembelajaran berbasis portofolio. Analisis datanya bersifat deskritptif analisis interaktif yaitu mulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukan gambaran umum SMA Negeri 4 Kota Tegal terletak di jalan Dr. Setiabudi No. 32 Kota Tegal lokasi tersebut sangat strategis dan mudah dijangkau dan SMA Negeri 4 Kota Tegal merupakan salah satu SMA yang berkualitas dan mampu berkompeten dalam mengembangkan dunia kependidikan di Kota Tegal terbukti bahwa SMA Negeri 4 kota Tegal telah mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan formal lain yang ada di kota Tegal, pada khususnya dalam bidang akademik maupun prestasi.Yang kedua bahwa pelaksanaan pembelajaran portofolio di SMA Negeri 4 Kota Tegal berjenis portofolio tayangan dan portofolio dokumentasi. Diadakan di kelas X pada semester genap. Dalam pembelajaran portofolio siswa dilatih untuk memiliki
kesadaran dan kemampuan bersikap kritis, peka dan peduli terhadap fenomena yang terjadi di dalam masyarakat sekitarnya. Dalam pembelajaran portofolio evaluasi portofolio mencakup penilaian portofolio tampilan atau tayangan, penilaian portofolio dokumentasi, serta penilaian portofolio presentasi. Dan yang ketiga hambatan-hambatan dalam pembelajaran portofolio yaitu waktu, biaya, dan kompetensi guru. Waktu dalam pembelajaran portofolio yaitu triwulan pertama identifikasi masalah kemudian dilanjutkan dengan mencari data di lapangan, triwulan kedua siswa menyelesaikan portofolio yaitu portofolio tayangan dan dokumentasi, akhir semester diadakan show_case. Kompetensi guru di SMA Negeri 4 sudah cukup baik karena pemahaman tentang pembelajaran portofolio didapatkan dari penataran di Semarang tentang pembelajaran portofolio walaupun kompetensi yang diharapkan belum maksimal hasilnya karena guru berlatar belakang non pendidikan Sosiologi. Namun berdasarkan wawancara dengan guru dan peserta didik yang sangat menonjol yaitu biaya karena dalam pembelajaran portofolio membutuhkan biaya yang cukup banyak terutama dalam pelaksanaan show_case.
Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran portofolio menjadikan peserta didik lebih aktif dalam proses belajar mengajar dan guru sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar mampu membuat suatu kegiatan belajar mengajar Sosiologi menjadi menyenangkan dan kondusif bagi peserta didiknya. Hambatan-hambatan dalam pembelajaran portofolio yaitu waktu, biaya, dan kompetensi guru.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para guru terutama guru yang kesulitan dalam meningkatkan antusiasme siswa untuk mencoba pembelajaran portofolio terutama untuk meningkatkan kreatifitas dan sikap kritis dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian suasana belajar mengajar lebih kondusif dan kualitas pembelajaran lebih meningkat dan bermutu

selengkapnya download disini
 
 
 

TINJAUAN SOSIOLOGI KESEHATAN MENGENAI KEBIASAAN MINUM MINUMAN KERAS (CIU BEKONANG) DI DAERAH SUKOHAR

Kondisi geografis dan budaya masyarakat Bekonang kecamatan Mojolaban kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah yang sebagian besar penduduknya mempunyai industri rumah tangga memproses tetes tebu menjadi alkohol yang berkadar rendah (37%) banyak disalahgunakan untuk mabukmabukkan. Alat destilasi dapat menaikkan kadar alkohol dari 37% menjadi 90% yang dapat digunakan untuk desinfektan di dunia kesehatan. Setelah kadar alkohol meningkat menjadi 90%, masyarakat Bekonang pada khususnya dan karisidenan Surakarta pada umumnya sudah tidak lagi menyalah-gunakan produksi alkohol "Ciu Bekonang" untuk minum dan mabuk-mabukkan.

selengkapnya download disini
 
 
 

KENDALA-KENDALA DALAM PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN SOSIOLOGI

Sosiologi sebagai mata pelajaran telah diajarkan di SMA sejak tahun 1994. Guru pengampu yang berlatar belakang pendidikan Sosiologi masih sangat terbatas. Hal ini menyebabkan mata pelajaran Sosiologi diampu oleh disiplin Geografi, Sejarah, Kewarganegaraan, Biologi, Ekonomi, Pertanian, dan Bahasa Indonesia. Ketidaksesuaian latar belakang pendidikan ini tentunya akan berimbas pada kemampuan dan kendala bagi guru dalam pembelajaran. Oleh karena itu permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana profil guru Sosiologi di SMA Negeri Kabupaten Wonosobo? (2) Bagaimana kemampuan guru dalam pembelajaran Sosiologi di SMA Negeri Kabupaten Wonosobo? (3) Kendala-kendala apa yang dihadapi guru dalam pembelajaran Sosiologi di SMA Negeri Kabupaten Wonosobo? Adapun tujuan penelitian (1) Mengetahui profil guru Sosiologi di SMA Negeri Kabupaten Wonosobo baik status, pendidikan maupun pengalaman dengan tingkat pengetahuan di dalam pengembangan kegiatan pembelajaran Sosiologi, (2) Mengetahui kemampuan guru dalam pembelajaran Sosiologi, (3) Mengetahui kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran Sosiologi, (4) Mengetahui kendala yang dihadapi guru dalam merencanakan pembelajaran Sosiologi, (5) Mengetahui kendala yang dihadapi guru dalam pelaksanaan pembelajaran Sosiologi
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian di SMA Negeri sekabupaten wonosobo, dengan metode pengumpulan data observasi, wawncara, dan dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah guru-guru pengampu mata pelajaran Sosiologi SMA Negeri kabupaten Wonosobo dengan informan masing-masing kepala sekolah. Data yang diperoleh dianalisis dan menggunakan uji validitas salah satunya dengan cara Trianggulasi. Dalam menganalisis data penelitian ini melalui 3 tahapan yaitu: Reduksi data, Penyajian data, dan Penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 16 guru pengampu mata pelajaran Sosiologi di SMA Negeri kabupaten Wonosobo, hanya 2 orang (12,5%) yang berasal dari disiplin ilmu Sosiologi. Adapun yang lainnya berasal dari jurusan Geografi, Pertanian, Ekonomi, Kewarganegaraan, Sejarah, Biologi, dan Bahasa Indonesia. Minimnya guru yang berlatar belakang pendidikan Sosiologi membuat Sosiologi menjadi mata pelajaran yang diampu oleh guru-guru yang jam mengajarnya masih kurang dari kewajiban minimal perminggu. Hal ini menyebabkan guru tersebut terbentur dalam pengembangan pembelajaran Sosiologi. Ada perbedaan antara guru berlatar belakang pendidikan Sosiologi dan non Sosiologi. Di mana guru berlatar belakang Sosiologi bukan berasal dari kependidikan, sehingga merasa kesulitan dalam wacana keguruannya terkait dengan perangkat pembelajaran dan metode pembelajaran. Guru berlatar belakang pendidikan non sosiologi sebagian besar mengalami kendala dalam sumber belajar, media, dan sarana prasarana. Di samping itu guru yang bukan dari disiplin Sosiologi merasa bahwa Sosiologi adalah pelajaran yang mudah bahkan jika dibandingkan dengan mengampu mata pelajaran yang merupakan bidang keilmuannya. Guru justru lebih cenderung fokus pada pelajaran yang diampunya dan merupakan bidang keilmuannya. Hal ini disebabkan sebagian guru tersebut hanya mengandalkan buku paket Sosiologi SMA, sehingga tidak sampai membawa siswa memiliki kompetensi sesuai yang diharapkan.
Simpulan penelitian ini adalah dalam pembelajaran Sosiologi guru mengalami banyak kendala baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Saran bagi guru untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya dengan terus belajar. Baik dari buku, seminar atau pelatihan, maupun dengan guru lain yang lebih berpengalaman. Pihak sekolah mulai membenahi formasi guru Sosiologi, dengan tidak menempatkan guru pengampu Sosiologi yang semata-mata kekurangan jam mengajar. Sekolah secepatnya melengkapi media dan sarana prasarana yang dibutuhkan guna menunjang keberhasilan pembelajaran. Bagi Dinas Pendidikan untuk memfasilitasi keterbatasan guru dari latar belakang pendidikan Sosiologi. Oleh sebab itu diperlukan kerja sama dari berbagai pihak yang berhubungan dengan pembelajaran Sosiologi, yaitu guru Sosiologi, kepala sekolah dan dinas pendidikan. Hal ini dilakukan supaya dapat diciptakan lingkungan pembelajaran Sosiologi yang kondusif dan dapat diperoleh hasil belajar yang optimal.

download secara lengkap disini
 
 
 

LATIHAN SOAL SOSIOLOGI SKL 2

13. Anak balita biasanya mulai belajar mengambil peranan orang-orang yang berada disekitarnya, apa yang dilakukan ibu dan kakaknya ia akan menirukannya. Tahapan perkembangan diri si anak dalam proses sosialisasi seperti contoh di atas termasuk.. .
A. play stage
B. game stage
C. play game
D. generaized stage
E. generalized others
14. Perhatikan contoh-contoh berikut !
1. sikap Anto begitu sopan dan rendah hati karena dibiasakan dari kecil oleh ibunya
2. karena kegemaran Inna mencari informasi di internet, ia sekarang berwawasan luas
3. Pak Iwan sangat marah bila melihat anaknya pulang sekolah terlambat tanpa alasan yang jelas
4. setelah remaja Andi lebih suka bertukar pikiran dengan Agung teman sekelasnya
Dari contoh-contoh di atas yang merupakan bentuk sosialisasi sekunder adalah...
A. 1 dan 2
B. 1 dan 3
C. 2 dan 3
D. 2 dan 4
E. 3 dan 4
15. Sosialisasi adalah proses belajar seorang anak untuk menjadi anggota yang berpartisipasi/ berperan aktif dalam aktivitas masyarakatnya. Dari pengertian diatas tujuan dari sosialisasi bagi individu adalah....
A. belajar budaya dalam masyarakat
B. memahami budaya milik masyarakat
C. menyediakan sarana belajar yang tepat
D. menjadi anggota masyarakat yang baik
E. Memberikan kemudahan dalam memahami budaya
16. Di sekolah, pergaulan para siswa dengan teman maupun guru diatur secara jelas dalam bentuk tata tertib tertulis dengan sanksi tertentu. Proses sosialisasi yang terjadi tergolong berbentuk....
A. formal
B. in-formal
C. individual
D. komunal
E. non-formal
17. Arman yang dulu berambut hitam tiba-tiba mengubah warna rambut menjadi pirang. Tindakan tersebut dilakukan agar ia lebih populer seperti artis idola yang sering muncul di layar televise. Agen sosialisasi yang berperan membentuk kepribadian tersebut adalah....
A. media masa
B. keluarga luas
C. lingkungan kerja
D. sekolah formal
E. teman bermain
18. Di kampus para mahasiswa diberi peluang/keleluasaan untuk memilih jumlah kredit (jam kuliah) sesuai dengan kemampuan intelektual dan finansial. Pola tersebut merupakan bentuk sosialisasi ....
A. primer
B. sekunder
C. represif
D. partisipatif
E. formal otoritatif
19. Pengaruh ekonomi global, salah satu dampaknya ter jadi pemutusan hubungan kerja (PHK) di beberapa perusahaan. Sebagai ibu rumah tangga terketuk hatinya untuk membantu perekonomian keluarga dengan menjadi pengemudi Busway. Menurut norma sosial pada masyarakat Indonesia, hal ini merupakan penyimpangan sosial yang bersifat positif. Berdasarkan kasus diatas, terdapat hubungan antara kepribadian dengan….
A. kebudayaan
B. pendidikan
C. ekonomi
D. politik
E. kesejahteraan
20. Peranan lingkungan teradap pembentukan kepribadian anak sangat besar. Ketika sudah dewasa perilaku anak selaras dengan nilai dan norma yang berlaku. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembentukan kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh....
A. budaya kelompok
B. lingkungan hidup
C. media masa populer
D. kelompok teman belajar
E. jumlah teman bermain
 
 
 

LATIHAN SOAL SOSIOLOGI SKL 1

1. Setiap pagi hari sebelum pelajaran dimulai, ibu Kepala Sekolah kami, selalu berdiri di depan pintu gerbang sekolah untuk menyambut kedatangan siswa serta guru dengan berjabatan tangan. Kontak yang dilakukan Kepala sekolah terhadap siswa dan guru tersebut menunjukkan kontak..
A. Primer
B. Sekunder
C. Tidak langsung
D. Positif
E. Negatif
2. Perhatikan contoh kasus di bawah ini !
1. siswa kela X dan kelas XI sepak bola memperebutkan piala kepala sekolah
2. tawuran pelajar antara SMA X dan SMA Y mengakibatkan banyak korban
3. kontrak kerja pengeboran minyak antara Indonesia dengan Inggris di lepas pantai
laut Jawa
4. warga memperbaiki saluran got yang tersumbat
Dari contoh tersebut yang termasuk bentuk interaksi asosiatif adalah…
A. 1 dan 2
B. 1 dan 3
C. 1 dan 4
D. 2 dan 3
E. 3 dan 4
3. Gejala sosial berikut ini yang di dalamnya terjadi hubungan interaksi sosial asosiatif adalah....
A. lomba karya ilmiah remaja se-Jabodetabek
B. frestival lagu-lagu pop dan keroncong
C. bertanding sepak bola kesebelasan unggulan
D. perebutan juara bola basket tingkat nasional
E. proses kegiatan belajar mengajar dalam kelas
4. Seorang siswa berceritera tentang pengalaman di luar negeri pada teman dengan bahasa Inggris tetapi temannya baru memberikan reaksi setelah ia beralih menggunakan bahasa Indonesia. Proses Interaksi sosial tersebut berbentuk ....
A. kerjasama/kooperasi
B. persaingan/kompetisi
C. perseteruan/konflik
D. pembauran/asimilasi
E. penyesuaian/akomodasi
5. Sebagai warga negara Indonesia kita ikut prihatin dan memberikan sumbangan kepada para korban bencana alam di berbagai wilayah rawan bencana. Tindakan sosial tersebut dipengaruhi faktor....
A. investasi
B. identifikasi
C. imitasi
D. empati
E. sugesti
6. Seorang anak Batita melihat ibunya menelepon, kemudian dia mengambil remote TV dan menggunakannya seolah-olah dia sedang menelpon. Dari contoh diatas, faktor interaksi sosial yang mempengaruhinya adalah….
A. identifikasi
B. imitasi
C. simpati
D. empati
E. sugesti
7. Masyarakat baduy memiliki kehidupan yang tentram dan damai. Nilai dan norma yang
mengatur kehidupan dijunjung tinggi. Hal itu berpengaruh pada perkembangan
jiwanya yaitu sebagai pribadi yang bertanggungjawab hidup tenang dan kerjasama
yang baik dalam masyarakat. Dari pernyataan tadi maka fungsi nilai sosial bagi
masyarakat baduy antara lain …
A. Mengukur seberapa banyak orang menganut nilai tersebut
B. Mengukur usaha manusia dalam memperlakukan nilai tersebut
C. Mengukur seberapa banyak orang yang tidak mematuhi nilai tersebut
D. Mengarahkan masyarakat untuk berfikir dan bertingkah laku
E. Mengukur kedudukan seseorang dalam menggunakana nilai tersebut
8. Ryan seorang pemuda yang rajin mengaji dan alumni MAN, namun perilakunya
berubah menjadi seorang yang kejam dan bengis. Perilaku Riyan merupakan bentuk
penyimpangan norma….
A. kesusilaan
B. kesopanan
C. kebiasaan
D. agama
E. hukum
9. Masyarakat yang religius sangat taat melaksanakan kegiatan beribadah sesuai
dengan ajaran agama. Perilaku taat tersebut didasari jenis nilai....
A. estitika
B. logika
C. material
D. spiritual
E. vital
10. Perhattikan beberapa prinsip berikut ini!
1. Anggapan masyarakat terhadap baik dan buruk
2. Ancaman sanksi berat atau ringan sesuai perbuatn
3. Arah atau tujuan dari setiap perilaku bermasyrakat
4. Perintah dan larangan yang harus dipatuhi
Diantara prinsip tersebut yang berkaitan dengan konsep nilai sosial (social values) adalah ....
A. 1 dan 2
B. 1 dan 3
C. 2 dan 3
D. 2 dan 4
E. 3 dan 4
11. Dalam sebuah kantor terdapat jabtan-jabatan tertentu dengan fungsi tertentu pula. Seseorang yang menjabat cleaningservice akan membersihkan lantai yang tampak kotor tanpa diberikan komando. Seorang Satpam akan menanyakan keperluan setiap orang yang datang ke kantor itu. Begitu pula receiptiononist akan menyapa setiap tamu yang datang Kegiatan tersebut dilakukan sesuai dengan peran yang diharapkan dari masing-masing sebagai pegawai. Keadaan tersebut menggambarkan telah tercipta.....
A. pola
B. perilaku
C. keajegan
D. tertib sosial
E. Keteraturan sosial
12. Setiap Senin pagi. para siswa mengikuti upacara bendera dengan teratur. Setiap tanda masuk dibunyikan, mereka langsung bergerak/berjalan menuju ke lapangan untuk mengikuti upacara hingga selesai. Perilaku para siswa tersebut menunjukkan adanya ....
A. keajegan sosial
B. dinamika sosial
C. kewajiban sosial
D. perilaku sosial
E. pola perilaku sosial

 
 
 

KETIKA MONCONG SENJATA IKUT BERNIAGA


Laporan Penelitian Keterlibatan Militer Dalam Bisnis di Bojonegoro, Boven Digoel dan Poso
Tim Peneliti:
M. Najib Azca Koordinator
Ahmad Muzakki Noor Anggota
Haris Azhar Anggota
Muhammad Islah Anggota
Mufti Makarim Al-Akhlaq Anggota
KOMISI UNTUK ORANG HILANG
DAN KORBAN TINDAK KEKERASAN

Buku yang sedang anda pegang ini merupakan hasil penelitian bisnis
militer di Bojonegoro, Boven Digoel dan Poso yang dilakukan oleh Komisi
Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Jakarta pada
2004. fokus dari penelitian ini adalah persoalan bisnis militer dan kaitannya
dengan Pelanggaran HAM dan Korupsi (dalam arti yang lebih luas berupa
penyalahgunaan wewenang oleh militer dan birokrasi sipil).
Pada dasarnya bisnis militer dalam berbagai bentuk, level keterlibatan dan
bidang adalah hal yang mudah ditemukan di berbagai tempat di Indonesia
dan diketahui umum. Persoalannya, banyak yang menganggap bahwa
hal tersebut adalah hal yang biasa dan ditolerir. Tidak banyak yang menilai
secara kritis bahwa hal tersebut bertentangan dengan fungsi dan tugas
utama militer dan mengakibatkan hilangnya profesionalisme militer.
Sementara persoalan lain yang tidak pernah dipertanyakan adalah, kalau
pun ada alasan-alasan yang membenarkan praktek bisnis militer seperti
minimnya budget APBN untuk operasional militer dan kebutuhan dana
untuk kesejahteraan prajurit, apakah bisnis-bisnis tersebut dilaksanakan
secara fair, akuntabel dan sesuai dengan alasan pembenar bisnis mereka?
Apa yang ditemukan dalam penelitian ini ternyata tidak sesederhana yang
kita bayangkan. Persoalan bisnis militer tidak bisa dipandang semata-mata
sebagai kegiatan bisnis biasa sebagai bisnis kalangan sipil, karena
disamping bertentangan dengan fungsi dan tugas, bisnis mereka kerap
bersentuhan kekerasan, kriminal dan penyalahgunaan wewenang. Mereka
sejatinya bukanlah pemodal yang berinvestasi, namun menjadi parasit pada
investasi multinasional sebagai tenaga pengaman dan beking untuk
kriminal bisnis.
Sebagai dampaknya, penelitian ini menemukan fakta bahwa alasan-alasan
pembenar bisnis sangat tidak relevan. Sebagian besar laba tidak pernah
masuk ke kas insttitusi dan dipertanggungjawabkan. Bisnis hanya
menjawab kebutuhan perwira untuk meandapatkan kemewahan hidup
dan "kesejahteraan" segelintir prajurit yang terlibat. Kekerasan dan
kerusakan lingkungan adalah bagian yang tidak terpisahkan darinya.

Juga gagalnya pembangunan postur militer Indonesia yang profesional
dalam menjalankan fungsi pertahanan.
Sebagaimana biasanya, dampak-dampak tersebut tidak pernah diproses,
apalagi dievaluasi. Ekses bisnis dipandang sebagai konsekuensi alamiah,
bukan sesuatu yang seharusnya dihindari atau dicegah. Sebagaimana
dalam operasi militer Indonesia, kematian dan kehancuran adalah hal yang
tidak bisa tidak terjadi untuk mencapai kemenangan, demikian pula yang
terjadi dalam bisnis militer. Untuk mencapai kemenangan bisnis, maka
kehancuran rakyat dan kepentingannya adalah nilai yang harus dibayar•
Penelitian Bisnis Militer dan Pelanggaran HAM di Indonesia ini adalah bagian
dari rangkaian kegiatan Kontras untuk dapat memberikan kontribusi bagi
penguatan supremasi sipil dan demokratisasi di Indonesia. Oleh karenanya,
penelitian ini dimaksudkan untuk menunjukkan kepada publik potret
bisnis militer dan bahayanya bagi supremasi sipil dan demokratisasi.
Sebelumnya Kontras telah mengadakan Expert Meeting tentang Anggaran
Militer dan Pertanggungjawabannya dikaitkan dengan Pengaruhnya Terhadap
Proses Demokratisasi dan Penegakan HAM di Indonesia, pada 10 Juli 2002 di
Jakarta. Dari Workshop tersebut diusulkan beberapa agenda mendesak
untuk dilaksanakan, yang antara lain adalah membuat studi-studi tentang
pembiayaan militer dan relasinya dengan pelanggaran HAM.
Penelitian ini mengambil waktu Februari-Mei 2004 dengan pilihan lokasi di
Jawa Timur (Kabupaten Bojonegoro), Sulawesi Tengah (Kabupaten Poso)
dan Papua (Kabupaten Boven Digoel). Di Sulawesi Tengah (Kabupaten Poso),
penelitian terfokus pada bisnis kayu hitam yang telah dirintis sejak lama
oleh aparat militer "setempat", yang saat ini tidak beroperasi lagi namun
meninggalkan dampak besar terhadap kehidupan sosial ekonomi
masyarakat setempat. Penelitian di Jawa Timur (Kabupaten Bojonegoro)
terfokus pada bisnis jasa keamanan (security bussiness) di perusahaanperusahaan
minyak multinasional seperti Santa Fe, Devon Energy, Petrochina
dan ExxonMobile Oil yang pernah dan sedang beroperasi sampai dengan
saat ini. Sementara di Papua (Kabupaten Boven Digoel), penelitian
difokuskan pada jasa keamanan dan keterlibatan perusahaan kayu lapis dan
kelapa sawit dan militer dalam mempertahankan "konflik" antara
kepentingan perusahaan, Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Tentara
Pembebasan Nasional (TPN) Organisasi Pembebasan Papua (OPM).

Pengertian militer dalam penelitian ini mencakup TNI-Polri dengan alasan
adanya hubungan historis militer-kepolisian dan watak milieristik
keduanya yang serupa. Termasuk hajat berbisnis dan alasan pembenar
kedua institusi. Dalam kuasa doktrin yang militeristik, keduanya juga samasama
menyumbangkan dampak negatif dalam berbisnis.
Kebanyakan data yang digunakan adalah data wawancara mendalam dan
pengamatan. Keterbatasan akses pada dokumen menjadi penyebab
mengapa penelitian ini menjadi penelitian antropologis. Penelitia akhirnya
lebih banyak mendengar, mencatat, dan melakukan cross check terhadap
apa yang diceritakan dan dirasakan masyarakat. Kesaksian korban, saksi
dan bahkan pelaku memperkaya "investigasi" kami yang saat ini disajikan
kepada anda•
Akhirnya, KontraS ingin mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya
kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung penelitian ini.
Kami tidak mungkin untuk menyebutkan seluruh pihak satu persatu,
namun beberapa beberapa pihak kami ingin menyampaikan penghargaan
kami: para expert yang intens memberikan saran, kritik dan pemikiran
bagi penelitian ini seperti Andrinof Chaniago (ekonomi politik), Mering
Ngo (antropologi), Patra M Zen (hukum dan HAM) dan Wiladi Budiharga
(Perumusan metodologi Penelitian); Sdr. M Najib Azca (Sosiolog dan Ahli
Militer dari UGM Yogyakarta) yang telah menjadi ketua Tim Peneliti.
Achmad Muzakki Noor sebagai peneliti lepas yang turut serta menjadi
anggota tim; Para peneliti lapangan di Bojonegoro, Boven Digoel dan Poso;
Para asisten peneliti yang di Jakarta, Bojonegoro, Boven Digoel dan Poso.
Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada beberapa organisasi
yang telah membantu penelitian ini sejak awal: Walhi Jawa Timur,
LPSHAM Sulteng, SKP-HAM Merauke: Organisasi yang terlibat dalam
Focused groups discussion (FGD): ICW, INFID, Walhi, YLBHI, dan lain-lain

download di sini:

http://www.4shared.com/file/200828316/5b0a5b59/ketika20moncong20senjata20ikut.html


 
 
 

LEMBAGA SOSIAL

I PENGERTIAN
Lembaga Sosial adalah keseluruhan dari sistem norma yang terbentuk berdasarkan tujuan dan fungsi tertentu dalam masyarakat.


Lembaga Sosial berbeda dengan asosiasi. lembaga sosial bukanlah kumpulan orang-orang atau bangunan besar, melainkan kumpulan norma. sementara itu, realisasi dari norma yang dianut dalam lembaga sosial tersebut terjadi dengan adanya asosiasi.

Lembaga Sosial disebut juga Pranata Sosial .

II JENIS-JENIS LEMBAGA SOSIAL
Tipe-tipe Lembaga Sosial adalah sebagai berikut:


1. Berdasarkan perkembangannya dalam masyarakat
a. Crescive Institution : Tidak sengaja tumbuh dalam masyarakat melainkan karena adat istiadat masyarakat tertentu. contohnya lembaga perkawinan.
b. Enacted Institution : Sengaja dibentuk dalam masyarakat. contohnya lembaga pendidikan.

2. Berdasarkan kepentingannya dalam masyarakat
a. Basic Institution : lembaga sosial yang penting keberadaannya dalam masyarakat. contohnya lembaga pendidikan dan lembaga keluarga.
b. Subsidiary Institution : lembaga sosial yang tidak terlalu penting . contohnya rekreasi.

3. Berdasarkan penerimannya dalam masyarakat
a. Approved/ Sanctioned Institution : diterima masyarakat. contohnya lembaga pendidikan.
b. Unsanctioned Institution : tidak diterima masyarakat. contohnya pelacuran.

4. Berdasarkan popularitasnya
a. General Institution : dikenal dunia secara luas. contohnya lembaga agama.
b. Restricted Institution : dikenal hanya oleh kalangan tertentu saja . contohnya lembaga agama Islam, Kristen, Hindu dll.

5. Berdasarkan tujuannya
a. Operative Institution : didirikan untuk tujuan tertentu. contohnya lembaga industri.
b. Regulative Institution : didirikan untuk mengawasi masyarakat. contohnya lembaga hukum dan kejaksaan.

III FUNGSI DAN KOMPONEN LEMBAGA SOSIAL
Lembaga Sosial memiliki dua fungsi, yakni:
a. Fungsi Manifest : fungsi yang diharapkan dari lembaga sosial tersebut.
b. Fungsi Laten : fungsi yang tidak diharapka n dari lembaga sosial tersebut, namun terjadi.

Tiga Komponen Pokok Lembaga Sosial :
1. Pedoman sikap
2. Simbol budaya
3. Ideologi

IV MACAM-MACAM LEMBAGA SOSIAL
1. Lembaga Keluarga, berfungsi sebagai sarana sosialisasi primer, afeksi, reproduksi, ekonomi, proteksi dan pemberian status.
2. Lembaga Pendidikan, berfungsi sebagai perantara pewarisan budaya masyarakat, mengajarkan peranan sosial, dan mengembangkan hubungan sosial.
3. Lembaga Ekonomi, berfungsi sebagai pengatur produksi, distribusi dan konsumsi barang dan jasa, serta memberi pedoman menggunakan tenaga kerja.
4. Lembaga Politik, berfungsi sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban, serta melayani dan melindungi masyarakat.
5. Lembaga Agama, berfungsi sebagai sumber pedoman hidup bagi masyarakat dan pengatur tata cara hubungan manusia dengan sesama dan manusia dengan Tuhan.
 
 
 

BENTUK-BENTUK PERUBAHAN SOSIAL

Pada hakikatnya, perubahan sosial dalam masyarakat dapat dibedakan ke dalam beberapa bentuk. Untuk mengetahuinya, mari kita simak bersama uraian berikut ini.

1. Perubahan Lambat (Evolusi)

Perubahan secara lambat atau evolusi memerlukan waktu yang lama. Perubahan ini biasanya merupakan rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat. Pada evolusi, perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana atau kehendak tertentu. Masyarakat hanya berusaha menyesuaikan dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.

2. Perubahan Cepat (Revolusi)

Perubahan yang berlangsung secara cepat dinamakan dengan revolusi. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan terlebih dahulu maupun tanpa direncanakan. Selain itu dapat dijalankan tanpa kekerasan maupun dengan kekerasan. Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya relatif karena revolusi pun dapat memakan waktu lama. Perubahan-perubahan tersebut dianggap cepat karena mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat, seperti sistem kekeluargaan dan hubungan antarmanusia. Suatu revolusi dapat juga berlangsung dengan didahului suatu pemberontakan.

Secara sosiologis, persyaratan berikut ini harus dipenuhi agar suatu revolusi dapat tercapai.

a. Harus ada keinginan dari masyarakat banyak untuk mengadakan perubahan. Di dalam masyarakat harus ada perasaan tidak puas terhadap keadaan dan harus ada keinginan untuk mencapai keadaan yang lebih baik.

b. Ada seorang pemimpin atau sekelompok orang yang mampu memimpin masyarakat untuk mengadakan perubahan.

c. Pemimpin harus dapat menampung keinginan atau aspirasi dari rakyat untuk kemudian merumuskan aspirasi tersebut menjadi suatu program kerja.

d. Ada tujuan konkret yang dapat dicapai. Artinya, tujuan itu dapat dilihat oleh masyarakat dan dilengkapi oleh suatu ideologi tertentu.

e. Harus ada momentum yang tepat untuk mengadakan revolusi, yaitu saat di mana keadaan sudah tepat dan baik untuk mengadakan suatu gerakan.

3. Perubahan Kecil

Pada zaman dahulu, kaum perempuan di Indonesia setiap harinya mengenakan baju kebaya. Seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan mode, model pakaian yang mereka kenakanpun mengalami perubahan. Ada yang memakai rok panjang, rok mini, celana panjang, kaos, dan lainlain. Contoh tersebut merupakan suatu bentuk perubahan kecil.

Apa yang kamu ketahui mengenai perubahan kecil? Perubahan kecil adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat.

4. Perubahan Besar

Perubahan besar adalah suatu perubahan yang berpengaruh terhadap masyarakat dan lembaga-lembaganya, seperti dalam sistem kerja, sistem hak milik tanah, hubungan kekeluargaan, dan stratifikasi masyarakat. Contohnya kepadatan penduduk di Pulau Jawa telah melahirkan berbagai perubahan, seperti semakin sempitnya lahan, terjadinya banyak pengangguran tersamar di desa-desa, dan lainnya.

5. Perubahan yang Dikehendaki

Perubahan ini merupakan perubahan yang diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan dalam masyarakat. Pihakpihak ini dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat sebagai pemimpin dalam perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan.

Cara-cara untuk memengaruhi masyarakat adalah dengan rekayasa sosial ( social engineering ), yaitu dengan sistem yang teratur dan direncanakan terlebih dahulu. Cara ini sering pula dinamakan perencanaan sosial ( social planning ). Contohnya, lahirnya undang-undang pemilu yang merubah tata cara pemilihan presiden dan wakil presiden di Indonesia. Saat ini rakyat memilihnya secara langsung.

6. Perubahan yang Tidak Dikehendaki

Pada tanggal 27 Mei 2006 di Jogjakarta dan Jawa Tengah diguncang gempa yang mengakibatkan banyak penduduk kehilangan keluarga dan tempat tinggal. Banyak fasilitas umum, seperti jalan, sekolah, dan rumah sakit rusak. Dengan demikian aktivitas masyarakat menjadi lumpuh. Peristiwa yang tidak mereka kehendaki tersebut telah menyebabkan terjadinya perubahan dalam masyarakat. Perubahan itu terjadi di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan tidak bisa diantisipasi atau diprediksi sebelumnya. Dalam sosiologi, perubahan tersebut biasa disebut dengan perubahan yang tidak dikehendaki karena menimbulkan akibatakibat sosial yang tidak diharapkan oleh masyarakat.

7. Perubahan Struktural

Perubahan struktural adalah perubahan yang sangat mendasar yang menyebabkan timbulnya reorganisasi dalam masyarakat. Contohnya perubahan sistem pemerintahan dari monarkhi ke sistem pemerintahan republik.

8. Perubahan Proses

Perubahan proses adalah perubahan yang sifatnya tidak mendasar. Perubahan tersebut hanya merupakan penyempurnaan dari perubahan sebelumnya. Contohnya, perubahan kurikulum dalam pendidikan. Sifatnya menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam perangkat atau dalam pelaksanaan kurikulum sebelumnya.

 
 
 

PROSES PERUBAHAN SOSIAL

Perubahan sosial terjadi pada setiap masyarakat. Bagaimanakah proses terjadinya perubahan sosial? Perubahan sosial dapat terjadi melalui difusi, akulturasi, asimilasi, dan akomodasi.

1. Difusi

Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan (ide-ide, keyakinan, hasil-hasil kebudayaan, dan sebagainya) dari individu kepada individu lain, dari satu golongan ke golongan lain dalam suatu masyarakat atau dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Dari pengertian tersebut dapat dibedakan dua macam difusi, yaitu difusi intramasyarakat dan difusi antarmasyarakat.

a. Difusi intramasyarakat ( intrasociety diffusion ), yaitu difusi unsur kebudayaan antarindividu atau golongan dalam suatu masyarakat. Difusi intramasyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut ini.

1) Adanya suatu pengakuan bahwa unsur baru tersebut mempunyai banyak kegunaan.

2) Ada tidaknya unsur kebudayaan yang memengaruhi diterima atau tidaknya unsur yang lain.

3) Unsur baru yang berlawanan dengan unsur lama kemungkinan besar tidak akan diterima.

4) Kedudukan dan peranan sosial dari individu yang menemukan sesuatu yang baru tadi akan dengan mudah diterima atau tidak.

5) Pemimpin atau penguasa dapat membatasi proses difusi tersebut.

b. Difusi antarmasyarakat ( intersociety diffusion ), yaitu difusi unsur kebudayaan dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Faktor-faktor yang memengaruhi difusi antarmasyarakat adalah sebagai berikut.

1) Adanya kontak antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain.

2) Kemampuan untuk mendemonstrasikan manfaat penemuan baru tersebut.

3) Pengakuan akan kegunaan penemuan baru tersebut.

4) Ada tidaknya unsur kebudayaan lain yang menyaingi unsur penemuan baru tersebut.

5) Peranan masyarakat dalam menyebarkan penemuan baru tersebut.

6) Paksaan untuk menerima unsur baru tersebut.

Mengenai masuknya unsur-unsur baru ke dalam suatu masyarakat dapat terjadi melalui perembesan secara damai, perembesan dengan kekerasan, dan simbiotik.

a. Perembesan damai ( penetration passifique ), yaitu masuknya unsur baru ke dalam suatu masyarakat tanpa kekerasan dan paksaan, namun justru mengakibatkan masyarakat yang menerima semakin maju. Contohnya masuknya internet ke sekolah-sekolah.

b. Perembesan dengan kekerasan ( penetration violente ), yaitu masuknya unsur baru ke dalam suatu masyarakat yang diwarnai dengan kekerasan dan paksaan, sehingga merusak kebudayaan masyarakat penerima. Contohnya masuknya budaya asing pada masa penjajahan kolonial Belanda.

c. Simbiotik, yaitu proses masuknya unsur-unsur kebudayaan ke atau dari dalam masyarakat yang hidup berdampingan. Ada tiga macam proses simbiotik, yaitu mutualistik, komensalistik, dan parasitistik.

1) Mutualistik, yaitu simbiose yang saling menguntungkan

2) Komensalistik, yaitu simbiose di mana satu pihak mendapatkan keuntungan, tetapi pihak lain tidak untung namun juga tidak rugi.

3) Parasitistik, yaitu simbiose di mana satu pihak mendapatkan keuntungan dan pihak lain menderita kerugian.

2. Akulturasi

Akulturasi merupakan proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya, tanpa menghilangkan sifat khas kepribadian kebudayaan asli.

Proses akulturasi dapat berjalan sangat cepat atau lambat tergantung persepsi masyarakat setempat terhadap budaya asing yang masuk. Apabila masuknya melalui proses pemaksaan, maka akulturasi memakan waktu relatif lama. Sebaliknya, apabila masuknya melalui proses damai, akulturasi tersebut akan berlangsung relatif lebih cepat.

3. Asimilasi

Asimilasi adalah proses sosial tingkat lanjut yang timbul apabila terdapat golongan-golongan manusia yang mempunyai latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda, saling berinteraksi dan bergaul secara langsung dan intensif dalam waktu yang lama, dan kebudayaan-kebudayaan golongan-golongan tadi masingmasing berubah sifatnya yang khas menjadi unsur-unsur kebudayaan yang baru, yang berbeda dengan aslinya.

Asimilasi terjadi sebagai usaha untuk mengurangi perbedaan antarindividu atau antarkelompok guna mencapai satu kesepakatan berdasarkan kepentingan dan tujuan-tujuan bersama. Menurut Koentjaraningrat, proses asimilasi akan timbul apabila ada kelompok-kelompok yang berbeda kebudayaan saling berinteraksi secara langsung dan terusmenerus dalam jangka waktu yang lama, sehingga kebudayaan masing-masing kelompok berubah dan saling menyesuaikan diri.

4. Akomodasi

Akomodasi dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang menunjuk terciptanya keseimbangan dalam hubungan-hubungan sosial antarindividu dan kelompok-kelompok sehubungan dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk kepada usaha-usaha manusia untuk meredakan pertentangan-pertentangan atau usaha-usaha untuk mencapai kestabilan interaksi sosial.

 
 
 

FAKTOR PENYEBAB PERUBAHAN SOSIAL

Dewasa ini perubahan merupakan suatu hal yang tidak bisa dielakkan lagi. Mengapa masyarakat melakukan perubahan? Dapatkah kamu menyebutkan faktor-faktor yang menjadi penyebab perubahan sosial? Soerjono Soekanto menyebutkan adanya faktor-faktor intern dan ekstern yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat.

1. Faktor Intern

Ada beberapa faktor yang bersumber dalam masyarakat itu sendiri yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial, yaitu perubahan penduduk, penemuan-penemuan baru, konflik dalam masyarakat, dan pemberontakan.

a. Perubahan Penduduk

Perubahan penduduk berarti bertambah atau berkurangnya penduduk dalam suatu masyarakat. Hal itu bisa disebabkan oleh adanya kelahiran dan kematian, namun juga bisa karena adanya perpindahan penduduk, baik transmigrasi maupun urbanisasi. Transmigrasi dan urbanisasi dapat mengakibatkan bertambahnya jumlah penduduk daerah yang dituju, serta berkurangnya jumlah penduduk daerah yang ditinggalkan. Akibatnya terjadi perubahan dalam struktur masyarakat, seperti munculnya berbagai profesi dan kelas sosial.

b. Penemuan-Penemuan Baru

Seiring dengan perkembangan zaman, kebutuhan manusia akan barang dan jasa semakin bertambah kompleks. Oleh karena itu berbagai penemuan baru diciptakan oleh manusia untuk membantu atau memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Penemuan baru yang menyebabkan perubahan pada masyarakat meliputi proses discovery, invention, dan inovasi.

1) Discovery , yaitu suatu penemuan unsur kebudayaan baru oleh individu atau kelompok dalam suatu masyarakat. Unsur baru itu dapat berupa alat-alat baru ataupun ideide baru.

2) Invention, yaitu bentuk pengembangan dari suatu discovery, sehingga penemuan baru itu mendapatkan bentuk yang dapat diterapkan atau difungsikan. Discovery baru menjadi invention apabila masyarakat sudah mengakui, menerima, serta menerapkan penemuan baru ini dalam kehidupan nyata di masyarakat.

3) Inovasi atau proses pembaruan, yaitu proses panjang yang meliputi suatu penemuan unsur baru serta jalannya unsur baru dari diterima, dipelajari, dan akhirnya dipakai oleh sebagian besar warga masyarakat.

Suatu penemuan baru, baik kebudayaan rohaniah (imaterial) maupun jasmaniah (material) mempunyai pengaruh bermacam-macam. Biasanya pengaruh itu mempunyai pola sebagai berikut.

1) Suatu penemuan baru menyebabkan perubahan dalam bidang tertentu, namun akibatnya memancar ke bidang lainnya. Contohnya penemuan handphone yang menyebabkan perubahan di bidang komunikasi, interaksi sosial, status sosial, dan lain-lain.

2) Suatu penemuan baru menyebabkan perubahan yang menjalar dari satu lembaga ke lembaga yang lain. Contohnya penemuan internet yang membawa akibat pada perubahan terhadap pengetahuan, pola pikir, dan tindakan masyarakat.

3) Beberapa jenis penemuan baru dapat mengakibatkan satu jenis perubahan. Contohnya penemuan internet, e-mail, televisi, dan radio menyebabkan perubahan pada bidang informasi dan komunikasi.

4) Penemuan baru dalam hal kebudayaan rohaniah (ideologi, kepercayaan, sistem hukum, dan sebagainya) berpengaruh terhadap lembaga kemasyarakatan, adat istiadat, maupun pola perilaku sosial. Contohnya pemahaman dan kesadaran akan nasionalisme oleh orangorang Indonesia yang belajar di luar negeri pada awal abad ke-20, mendorong lahirnya gerakan-gerakan yang menginginkan kemerdekaan politik dan lembagalembaga sosial baru yang bersifat nasional.

c. Konflik dalam Masyarakat

Suatu konflik yang kemudian disadari dapat memecahkan ikatan sosial biasanya akan diikuti dengan proses akomodasi yang justru akan menguatkan ikatan sosial tersebut. Apabila demikian, maka biasanya terbentuk keadaan yang berbeda dengan keadaan sebelum terjadi konflik. Contohnya konflik antarteman di sekolah. Konflik dapat merubah kepribadian orang-orang yang terlibat di dalamnya, misalnya jadi murung, pendiam, tidak mau bergaul, dan lain-lain. Namun apabila orang-orang yang terlibat konflik sadar akan hal itu, maka mereka akan berusaha untuk memperbaiki keadaan itu agar lebih baik dari sebelumnya.

d. Pemberontakan (Revolusi) dalam Tubuh Masyarakat

Revolusi di Indonesia pada 17 Agustus 1945 mengubah struktur pemerintahan kolonial menjadi pemerintahan nasional. Hal itu diikuti dengan berbagai perubahan mulai dari lembaga keluarga, sistem sosial, sistem politik, sistem ekonomi, dan sebagainya.

2. Faktor Ekstern

Dengan melakukan interaksi sosial, banyak pengaruhpengaruh dari luar masyarakat kita yang mendorong terjadinya perubahan sosial. Faktor-faktor ekstern yang menyebabkan perubahan sosial adalah sebagai berikut.

a. Faktor Alam yang Ada di Sekitar Masyarakat Berubah

Bagi manusia, alam mempunyai makna yang sangat penting bagi kehidupannya. Misalnya alam mempunyai nilai estetika yang mendorong manusia untuk cinta pada alam, alam sebagai sumber penyediaan bahan-bahan makanan dan pakaian, serta alam menjadi sumber kesehatan, keindahan, dan hiburan atau rekreasi.

Mengingat pentingnya alam bagi kehidupan manusia, maka sudah seharusnyalah kita menjalin keserasian hubungan dengan alam yang ada di sekitar kita agar tetap terjaga kelestariannya. Namun apa yang terjadi? Tidak jarang tindakan manusia justru mengakibatkan munculnya kerusakan alam. Misalnya tindakan manusia menebang hutan secara liar. Tindakan tersebut dapat menimbulkan banjir dan tanah longsor pada musim penghujan karena terjadinya pengikisan tanah oleh air hujan (erosi). Akibatnya banyak masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, keluarga, dan sarana umum lainnya.

b. Peperangan

Peperangan yang terjadi antara negara yang satu dengan negara yang lain dapat menyebabkan terjadinya perubahan yang sangat mendasar, baik seluruh wujud budaya (sistem budaya, sistem sosial, dan unsur-unsur budaya fisik) maupun seluruh unsur budaya (sistem pengetahuan, teknologi, ekonomi, bahasa, kesenian, sistem religi, dan kemasyarakatan). Perubahan-perubahan itu umumnya terjadi pada negara yang kalah perang karena biasanya negara yang menang cenderung untuk memaksakan nilai-nilai, budaya, cara-cara, dan lembaga kemasyarakatannya kepada negara tersebut.

c. Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain

Terjadinya pengaruh kebudayaan masyarakat lain adalah sebagai berikut.

1) Apabila terjadi hubungan primer, maka akan terjadi pengaruh timbal balik. Di samping dipengaruhi, suatu masyarakat akan memengaruhi masyarakat lain.

2) Apabila kontak kebudayaan terjadi melalui sarana komunikasi massa seperti radio, televisi, majalah atau surat kabar. Dalam hal ini pengaruh kebudayaan hanya terjadi sepihak, yaitu pengaruh dari masyarakat yang menguasai sarana komunikasi massa tersebut.

3) Apabila dua masyarakat yang mengalami kontak kebudayaan mempunyai taraf kebudayaan yang sama, terkadang yang terjadi justru cultural animosity, yaitu keadaan di mana dua masyarakat yang meskipun berkebudayaan berbeda dan saling hidup berdampingan itu saling menolak pengaruh kebudayaan satu terhadap yang lain. Biasanya terjadi antara dua masyarakat yang pada masa lalunya mempunyai konflik fisik ataupun nonfisik.

4) Apabila dua kebudayaan bertemu salah satunya mempunyai taraf yang lebih tinggi, maka yang terjadi adalah proses imitasi (peniruan) unsur-unsur kebudayaan masyarakat yang telah maju oleh kebudayaan yang masih rendah.

 
 
 

TEORI-TEORI PERUBAHAN SOSIAL

Kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan gejala yang wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia di dalam masyarakat. Perubahan-perubahan sosial akan terus berlangsung sepanjang masih terjadi interaksi antarmanusia dan antarmasyarakat. Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat, seperti perubahan dalam unsurunsur geografis, biologis, ekonomis, dan kebudayaan. Perubahan-perubahan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang dinamis. Adapun teori-teori yang menjelaskan mengenai perubahan sosial adalah sebagai berikut.

1. Teori Evolusi ( Evolution Theory )

Teori ini pada dasarnya berpijak pada perubahan yang memerlukan proses yang cukup panjang. Dalam proses tersebut, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Ada bermacam-macam teori tentang evolusi. Teori tersebut digolongkan ke dalam beberapa kategori, yaitu unilinear theories of evolution, universal theories of evolution, dan multilined theories of evolution.

a. Unilinear Theories of Evolution

Teori ini berpendapat bahwa manusia dan masyarakat termasuk kebudayaannya akan mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan-tahapan tertentu dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks dan akhirnya sempurna. Pelopor teori ini antara lain Auguste Comte dan Herbert Spencer.

b. Universal Theories of Evolution

Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap. Kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi tertentu. Menurut Herbert Spencer, prinsip teori ini adalah bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok homogen menjadi kelompok yang heterogen.

c. Multilined Theories of Evolution

Teori ini lebih menekankan pada penelitian terhadap tahaptahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya mengadakan penelitian tentang perubahan sistem mata pencaharian dari sistem berburu ke sistem pertanian menetap dengan menggunakan pemupukan dan pengairan.

Menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, ada beberapa kelemahan dari Teori Evolusi yang perlu mendapat perhatian, di antaranya adalah sebagai berikut.

a. Data yang menunjang penentuan tahapan-tahapan dalam masyarakat menjadi sebuah rangkaian tahapan seringkali tidak cermat.

b. Urut-urutan dalam tahap-tahap perkembangan tidak sepenuhnya tegas, karena ada beberapa kelompok masyarakat yang mampu melampaui tahapan tertentu dan langsung menuju pada tahap berikutnya, dengan kata lain melompati suatu tahapan. Sebaliknya, ada kelompok masyarakat yang justru berjalan mundur, tidak maju seperti yang diinginkan oleh teori ini.

c. Pandangan yang menyatakan bahwa perubahan sosial akan berakhir pada puncaknya, ketika masyarakat telah mencapai kesejahteraan dalam arti yang seluas-luasnya. Pandangan seperti ini perlu ditinjau ulang, karena apabila perubahan memang merupakan sesuatu yang konstan, ini berarti bahwa setiap urutan tahapan perubahan akan mencapai titik akhir.

Padahal perubahan merupakan sesuatu yang bersifat terusmenerus sepanjang manusia melakukan interaksi dan sosialisasi.

2. Teori Konflik ( Conflict Theory )

Menurut pandangan teori ini, pertentangan atau konflik bermula dari pertikaian kelas antara kelompok yang menguasai modal atau pemerintahan dengan kelompok yang tertindas secara materiil, sehingga akan mengarah pada perubahan sosial. Teori ini memiliki prinsip bahwa konflik sosial dan perubahan sosial selalu melekat pada struktur masyarakat.

Teori ini menilai bahwa sesuatu yang konstan atau tetap adalah konflik sosial, bukan perubahan sosial. Karena perubahan hanyalah merupakan akibat dari adanya konflik tersebut. Karena konflik berlangsung terus-menerus, maka perubahan juga akan mengikutinya. Dua tokoh yang pemikirannya menjadi pedoman dalam Teori Konflik ini adalah Karl Marx dan Ralf Dahrendorf.

Secara lebih rinci, pandangan Teori Konflik lebih menitikberatkan pada hal berikut ini.

a. Setiap masyarakat terus-menerus berubah.

b. Setiap komponen masyarakat biasanya menunjang perubahan masyarakat.

c. Setiap masyarakat biasanya berada dalam ketegangan dan konflik.

d. Kestabilan sosial akan tergantung pada tekanan terhadap golongan yang satu oleh golongan yang lainnya.

3. Teori Fungsionalis ( Functionalist Theory )

Konsep yang berkembang dari teori ini adalah cultural lag (kesenjangan budaya). Konsep ini mendukung Teori Fungsionalis untuk menjelaskan bahwa perubahan sosial tidak lepas dari hubungan antara unsur-unsur kebudayaan dalam masyarakat. Menurut teori ini, beberapa unsur kebudayaan bisa saja berubah dengan sangat cepat sementara unsur yang lainnya tidak dapat mengikuti kecepatan perubahan unsur tersebut. Maka, yang terjadi adalah ketertinggalan unsur yang berubah secara perlahan tersebut. Ketertinggalan ini menyebabkan kesenjangan sosial atau cultural lag .

Para penganut Teori Fungsionalis lebih menerima perubahan sosial sebagai sesuatu yang konstan dan tidak memerlukan penjelasan. Perubahan dianggap sebagai suatu hal yang mengacaukan keseimbangan masyarakat. Proses pengacauan ini berhenti pada saat perubahan itu telah diintegrasikan dalam kebudayaan. Apabila perubahan itu ternyata bermanfaat, maka perubahan itu bersifat fungsional dan akhirnya diterima oleh masyarakat, tetapi apabila terbukti disfungsional atau tidak bermanfaat, perubahan akan ditolak. Tokoh dari teori ini adalah William Ogburn.

Secara lebih ringkas, pandangan Teori Fungsionalis adalah sebagai berikut.

a. Setiap masyarakat relatif bersifat stabil.

b. Setiap komponen masyarakat biasanya menunjang kestabilan masyarakat.

c. Setiap masyarakat biasanya relatif terintegrasi.

d. Kestabilan sosial sangat tergantung pada kesepakatan bersama (konsensus) di kalangan anggota kelompok masyarakat.

4. Teori Siklis ( Cyclical Theory )

Teori ini mencoba melihat bahwa suatu perubahan sosial itu tidak dapat dikendalikan sepenuhnya oleh siapapun dan oleh apapun. Karena dalam setiap masyarakat terdapat perputaran atau siklus yang harus diikutinya. Menurut teori ini kebangkitan dan kemunduran suatu kebudayaan atau kehidupan sosial merupakan hal yang wajar dan tidak dapat dihindari.

Sementara itu, beberapa bentuk Teori Siklis adalah sebagai berikut.

a. Teori Oswald Spengler (1880-1936)

Menurut teori ini, pertumbuhan manusia mengalami empat tahapan, yaitu anak-anak, remaja, dewasa, dan tua. Pentahapan tersebut oleh Spengler digunakan untuk menjelaskan perkembangan masyarakat, bahwa setiap peradaban besar mengalami proses kelahiran, pertumbuhan, dan keruntuhan. Proses siklus ini memakan waktu sekitar seribu tahun.

b. Teori Pitirim A. Sorokin (1889-1968)

Sorokin berpandangan bahwa semua peradaban besar berada dalam siklus tiga sistem kebudayaan yang berputar tanpa akhir. Siklus tiga sistem kebudayaan ini adalah kebudayaan ideasional, idealistis, dan sensasi.

1) Kebudayaan ideasional, yaitu kebudayaan yang didasari oleh nilai-nilai dan kepercayaan terhadap kekuatan supranatural.

2) Kebudayaan idealistis, yaitu kebudayaan di mana kepercayaan terhadap unsur adikodrati (supranatural) dan rasionalitas yang berdasarkan fakta bergabung dalam menciptakan masyarakat ideal.

3) Kebudayaan sensasi, yaitu kebudayaan di mana sensasi merupakan tolok ukur dari kenyataan dan tujuan hidup.

c. Teori Arnold Toynbee (1889-1975)

Toynbee menilai bahwa peradaban besar berada dalam siklus kelahiran, pertumbuhan, keruntuhan, dan akhirnya kematian. Beberapa peradaban besar menurut Toynbee telah mengalami kepunahan kecuali peradaban Barat, yang dewasa ini beralih menuju ke tahap kepunahannya.

 
 
 

PENGERTIAN PERUBAHAN SOSIAL

Kamu tentu selalu ingin mengalami perubahan bukan? Ataukah kamu merasa puas dengan kondisi yang ada seperti saat ini? Perubahan sosial merupakan suatu perwujudan dinamika kehidupan sosial. Maka, tentunya untuk mencapai dinamika kehidupan sosial itu, masyarakat selalu mengalami perubahan.

Di tengah-tengah masyarakat, kelompok-kelompok sosial yang ada bukanlah sesuatu yang statis atau tetap, melainkan selalu mengalami perkembangan sesuai dengan perubahan yang diperlukan oleh kelompok tersebut. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Auguste Comte bahwa sosiologi pada dasarnya mempelajari masyarakat, baik yang bersifat statis maupun dinamis. Perubahan diperlukan karena kelompok sosial tersebut tidak cocok lagi dengan situasi dan kondisi yang ada pada saat itu.

Mengapa terjadi perubahan? Pada dasarnya manusia adalah makhluk dinamis. Manusia tidak pernah merasa puas atau cukup dengan keadaan yang ada sekarang. Melalui interaksinya dengan manusia lain serta alam sekitarnya, manusia menyadari dan menemukan sesuatu yang lain, yang harus dilakukan untuk mengubah dan memperbarui hidupnya. Tentunya disesuaikan dengan perkembangan pola pikir dan kemampuan yang dimilikinya.

Perubahan merupakan gejala sosial yang dialami oleh setiap masyarakat. Masyarakat memiliki kecenderungan untuk semakin maju dan berkembang, seiring dengan kemajuan pola pikir dan tingkat kemampuannya. Kecenderungan ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini.

1. Rasa tidak puas terhadap keadaan dan situasi yang ada.

2. Timbul keinginan untuk mengadakan perubahan.

3. Sadar akan adanya kekurangan dalam kebudayaan sendiri sehingga berusaha untuk menutupinya dengan mengadakan perbaikan.

4. Adanya usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.

5. Banyaknya kesulitan yang dihadapi memungkinkan manusia berusaha untuk dapat mengatasinya.

6. Tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dan adanya keinginan untuk meningkatkan taraf hidup.

7. Sikap terbuka dari masyarakat terhadap hal-hal yang baru, baik yang datang dari dalam maupun dari luar masyarakat tersebut.

8. Sistem pendidikan yang dapat memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Perubahan dilakukan oleh manusia menuju ke sebuah keadaan baru yang berbeda dengan keadaan sebelumnya. Perubahan dimaksudkan untuk meningkatkan taraf dan derajat kehidupannya, baik secara moral maupun materiil. Apakah perubahan sosial itu? Berikut ini beberapa ahli sosiologi mengungkapkan definisi perubahan sosial sesuai dengan sudut pandang mereka.

1. Kingsley Davis

Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.

2. Robert Mac Iver

Perubahan sosial adalah perubahan dalam hubungan sosial atau perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial.

3. Samuel Koenig

Perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia.

4. J.P. Gillin dan J.L. Gillin

Perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan materiil, komposisi penduduk, dan ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuanpenemuan baru dalam masyarakat.

5. Hans Garth dan C. Wright Mills

Perubahan sosial adalah apapun yang terjadi (baik itu kemunculan, perkembangan ataupun kemunduran), dalam kurun waktu tertentu terhadap peran, lembaga, atau tatanan yang meliputi struktur sosial.

 
 
 

MASYARAKAT SEBAGAI SISTEM SOSIAL

Pada bagian-bagian terdahulu, kita sudah menyinggung masyarakat. Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan masyarakat itu? Apakah mereka membentuk sebuah sistem setelah mengadakan proses sosial atau interaksi sosial? Mari kita pelajari dalam bab ini. Kamu tentu tidak asing lagi dengan istilah masyarakat. Setiap hari kamu mendengar, mengucapkan, bahkan hidup atau berkumpul dengan orang lain dalam masyarakat. Nah, sekarang kita akan belajar mengenai kehidupan bermasyarakat.

1. Pengertian Masyarakat

Lingkungan tempat kita tinggal dan melakukan berbagai aktivitas disebut dengan masyarakat. Apakah masyarakat hanya sebatas pada pengertian itu? Tidak. Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian masyarakat, sebaiknya kita pahami beberapa definisi menurut pendapat para ahli sosiologi.

a. Emile Durkheim

Masyarakat adalah suatu kenyataan objektif individuindividu yang merupakan anggota-anggotanya.

b. Karl Marx

Masyarakat adalah suatu struktur yang menderita ketegangan organisasi ataupun perkembangan karena adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terpecah-pecah secara ekonomis.

c. Max Weber

Masyarakat adalah suatu struktur atau aksi yang pada pokoknya ditentukan oleh harapan dan nilai-nilai yang dominan pada warganya.

d. Koentjaraningrat

Masyarakat adalah kesatuan hidup dari makhluk-makhluk manusia yang terikat oleh suatu sistem adat istiadat tertentu.

e. Mayor Polak

Masyarakat adalah wadah segenap antarhubungan sosial yang terdiri dari banyak sekali kolektivitas serta kelompok, dan tiap-tiap kelompok terdiri lagi atas kelompok-kelompok yang lebih kecil (subkelompok).

f. Roucek dan Warren

Masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki rasa dan kesadaran bersama, di mana mereka berdiam (bertempat tinggal) dalam daerah yang sama yang sebagian besar atau seluruh warganya memperlihatkan adanya adat istiadat serta aktivitas yang sama pula.

g. Paul B. Horton

Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, yang hidup bersama-sama cukup lama, yang mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama dan melakukan sebagian besar kegiatan dalam kelompok itu. Pada bagian lain Horton mengemukakan bahwa masyarakat adalah suatu organisasi manusia yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat dapat dibedakan dalam pengertian natural dan kultural.

a. Masyarakat dalam pengertian natural adalah community yang ditandai oleh adanya persamaan tempat tinggal ( the same geographic area ). Misalnya masyarakat Sunda, masyarakat

Jawa, masyarakat Batak, dan sebagainya.

b. Masyarakat dalam pengertian kultural adalah society yang keberadaannya tidak terikat oleh the same geographic area, melainkan hasil dinamika kebudayaan peradaban manusia. Misalnya masyarakat pelajar, masyarakat petani, dan sebagainya.

Soerjono Soekanto mengemukakan bahwa ciri-ciri suatu masyarakat pada umumnya adalah sebagai berikut.

a. Manusia yang hidup bersama, sekurang-kurangnya terdiri atas dua orang.

b. Bercampur atau bergaul dalam waktu yang cukup lama. Berkumpulnya manusia akan menimbulkan manusiamanusia baru. Sebagai akibat hidup bersama itu, timbul sistem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antarmanusia.

c. Sadar bahwa mereka merupakan satu-kesatuan.

d. Merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena mereka merasa dirinya terikat satu dengan lainnya.

2. Masyarakat sebagai Suatu Sistem

Sebagai suatu sistem, individu-individu yang terdapat di dalam masyarakat saling berhubungan atau berinteraksi satu sama lain, misalnya dengan melakukan kerja sama guna memenuhi kebutuhan hidup masing-masing.

a. Sistem Sosial

Sistem adalah bagian-bagian yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya, sehingga dapat berfungsi melakukan suatu kerja untuk tujuan tertentu. Sistem sosial itu sendiri adalah suatu sistem yang terdiri dari elemenelemen sosial. Elemen tersebut terdiri atas tindakan-tindakan sosial yang dilakukan individu-individu yang berinteraksi satu dengan yang lainnya. Dalam sistem sosial terdapat individu-individu yang berinteraksi dan bersosialisasi sehingga tercipta hubungan-hubungan sosial. Keseluruhan hubungan sosial tersebut membentuk struktur sosial dalam kelompok maupun masyarakat yang akhirnya akan menentukan corak masyarakat tersebut.

b. Struktur Sosial

Struktur sosial mencakup susunan status dan peran yang terdapat di dalam satuan sosial, ditambah nilai-nilai dan norma-norma yang mengatur interaksi antarstatus dan antarperan sosial. Di dalam struktur sosial terdapat unsurunsur sosial yang pokok, seperti kaidah-kaidah sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial, dan lapisan-lapisan sosial. Bagaimana sebetulnya unsur-unsur sosial itu terbentuk, berkembang, dan dipelajari oleh individu dalam masyarakat? Melalui proses-proses sosial semua itu dapat dilakukan. Proses sosial itu sendiri merupakan hubungan timbal balik antara bidang-bidang kehidupan dalam masyarakat dengan memahami dan mematuhi norma-norma yang berlaku.

c. Masyarakat sebagai Suatu Sistem

Apabila kita mengikuti pengertian masyarakat baik secara natural maupun kultural, maka akan tampak bahwa keberadaan kedua masyarakat itu merupakan satu-kesatuan. Dengan demikian, kita akan tahu bahwa unsur-unsur yang ada di dalam masyarakat yang masing-masing saling bergantung merupakan satu-kesatuan fungsi. Adanya mekanisme yang saling bergantung, saling fungsional, saling mendukung antara berbagai unsur dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain itulah yang kita sebut sebagai sistem.

Masyarakat sebagai suatu sistem selalu mengalami dinamika yang mengikuti hukum sebab akibat (kausal). Apabila ada perubahan pada salah satu unsur atau aspek, maka unsur yang lain akan menerima konsekuensi atau akibatnya, baik yang positif maupun yang negatif. Oleh karena itu, sosiologi melihat masyarakat atau perubahan masyarakat selalu dalam kerangka sistemik, artinya perubahan yang terjadi di salah satu aspek akan memengaruhi faktor-faktor lain secara menyeluruh dan berjenjang.

Menurut Charles P. Loomis, masyarakat sebagai suatu sistem sosial harus terdiri atas sembilan unsur berikut ini.

1) Kepercayaan dan Pengetahuan

Unsur ini merupakan unsur yang paling penting dalam sistem sosial, karena perilaku anggota dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka yakini dan apa yang mereka ketahui tentang kebenaran, sistem religi, dan cara-cara penyembahan kepada sang pencipta alam semesta.

2) Perasaan

Unsur ini merupakan keadaan jiwa manusia yang berkenaan dengan situasi alam sekitarnya, termasuk di dalamnya sesama manusia. Perasaan terbentuk melalui hubungan yang menghasilkan situasi kejiwaan tertentu yang sampai pada tingkat tertentu harus dikuasai agar tidak terjadi ketegangan jiwa yang berlebihan.

3) Tujuan

Manusia sebagai makhluk sosial dalam setiap tindakannya mempunyai tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Tujuan adalah hasil akhir atas suatu tindakan dan perilaku seseorang yang harus dicapai, baik melalui perubahan maupun dengan cara mempertahankan keadaan yang sudah ada.

4) Kedudukan (Status) dan Peran ( Role )

Kedudukan (status) adalah posisi seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang lain, dalam arti lingkungan pergaulan, prestasi, hak, serta kewajibannya. Kedudukan menentukan peran atau apa yang harus diperbuatnya bagi masyarakat sesuai dengan status yang dimilikinya. Jadi peran ( role ) merupakan pelaksanaan hak dan kewajiban seseorang sehubungan dengan status yang melekat padanya. Contohnya seorang guru (status) mempunyai peranan untuk membimbing, mengarahkan, dan memberikan atau menyampaikan materi pelajaran kepada siswa-siswanya.

5) Kaidah atau Norma

Norma adalah pedoman tentang perilaku yang diharapkan atau pantas menurut kelompok atau masyarakat atau biasa disebut dengan peraturan sosial. Norma sosial merupakan patokan-patokan tingkah laku yang diwajibkan atau dibenarkan dalam situasi-situasi tertentu dan merupakan unsur paling penting untuk meramalkan tindakan manusia dalam sistem sosial. Norma sosial dipelajari dan dikembangkan melalui sosialisasi, sehingga menjadi pranata-pranata sosial yang menyusun sistem itu sendiri.

6) Tingkat atau Pangkat

Pangkat berkaitan dengan posisi atau kedudukan seseorang dalam masyarakat. Seseorang dengan pangkat tertentu berarti mempunyai proporsi hak-hak dan kewajiban-kewajiban tertentu pula. Pangkat diperoleh setelah melalui penilaian terhadap perilaku seseorang yang menyangkut pendidikan, pengalaman, keahlian, pengabdian, kesungguhan, dan ketulusan perbuatan yang dilakukannya.

7) Kekuasaan

Kekuasaan adalah setiap kemampuan untuk memengaruhi pihak-pihak lain. Apabila seseorang diakui oleh masyarakat sekitarnya, maka itulah yang disebut dengan kekuasaan.

Sanksi

Sanksi adalah suatu bentuk imbalan atau balasan yang diberikan kepada seseorang atas perilakunya. Sanksi dapat berupa hadiah ( reward ) dan dapat pula berupa hukuman ( punishment ). Sanksi diberikan atau ditetapkan oleh masyarakat untuk menjaga tingkah laku anggotanya agar sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

9) Fasilitas (Sarana)

Fasilitas adalah semua bentuk cara, jalan, metode, dan benda-benda yang digunakan manusia untuk menciptakan tujuan sistem sosial itu sendiri. Dengan demikian fasilitas di sini sama dengan sumber daya material atau kebendaan maupun sumber daya imaterial yang berupa ide atau gagasan.

 
 
Page 1 of 2. Total : 33 Posts.